Impian Liverpool untuk kembali menguasai sepakbola Inggris tampaknya menjadi sesuatu yang sulit diwujudkan dalam waktu dekat ini, demikian pendapat ketua kompetisi Jerman Bundesliga, Christian Seifert.Menurut Seifert, UEFA harus membuat aturan baru untuk mendistribusikan uang hasil kompetisi Liga Champions dan Liga Europa karena tidak ingin dalam satu negara hanya didominasi satu atau dua tim saja."Ketika saya tumbuh besar, salah satu tim terhebat adalah Liverpool. Tapi sekarang saya tidak yakin mereka bisa memenangi titel Premier League lagi." ujar Seifert di sela-sela Kongres UEFA di London."Karena mereka harus bersaing dengan klub yang memiliki sumber finansial yang banyak dan uang yang datang dari Liga Champions. Itu harus dipikirkan jika ingin memiliki kompetisi yang sehat." lanjutnya.Liverpool memang sudah lama tidak bertahta di kompetisi level tertinggi Inggris. The Reds bahkan tak pernah juara kompetisi dengan kemasan baru yang sudah ada sejak 1992, Premier League.
Manajer Liverpool, Brendan Rodgers menunjukan indikasi untuk mencari sosok pemimpin baru, yang bisa mengemban tugas kepemimpinan dalam bentuk berbeda.Selama ini The Reds memang akrab dengan sosok Steven Gerrardsebagai nahkoda di tengah lapangan. Soal dedikasi, loyalitas dan kemampuan teknis memang tak ada yang meragukan kualitas inspiratif pemain 32 tahun tersebut.Dan menjelang bursa transfer musim panas mendatang, Rodgers berharap bisa mendapatkan karakter pemimpin yang bisa berkomunikasi dengan para pemain, serta sedikit menguasai trik organisasi sebuah kelompok."Setiap orang harus memainkan peran dalam kepemimpinan. Anda mendapatkan tipe pemimpin yang berbeda, beberapa murni dari aksi dan inspirasi, sementara lainnya melalui organisasi dan lebih pada ide verbal," ujar Rodgers."Tanggung jawab tersebut adalah sesuatu yang belum ada di grup ini, namun kami juga berupaya mendatangkan pemain bertipe seperti itu. Ini adalah pekerjaan kami, yang akan membawa kami kembali tancap gas."
Bukanlah tanpa alasan jika Zlatan Ibrahimovic mengaku amat merindukan sepakbola Italia, sebab di sana ia lebih bisa merasakan fanatisme para tifosi.Sebagai pemain yang kerap berganti klub di berbagai belahan Eropa, Ibra jelas berpengalaman dan bisa membedakan kultur satu negara dengan negara yang lain.Striker PSG ini berucap, "Ada perbedaan yang amat besar dengan yang lainnya, saya lebih suka di sana. Di Italia fanatisme sepakbola lebih kental. Ketika ada bintang besar datang mereka diperlakukan dengan semestinya.""Sebagai contoh jika Anda bermain bagi klub besar, para pemilik restoran di sana bisa bilang, 'malam ini restoran saya milik Anda'," imbuh mantan pemain Juve, Inter dan AC Milan tersebut kepada La Gazetta dello Sport.
Manchester United tampaknya bakal mendapat perlawanan ketat dari Bayern Munich dalam upaya menyeret Thiago Alcantarakeluar dari Barcelona.Setan Merah memang dikabarkan getol memburu sosok playmaker, terutama dengan kepastian pensiunnya Paul Scholes. Dan Thiago adalah sosok yang mereka anggap tepat untuk menjadi komando permainan di lini tengah layaknya Scholesy.Gelandang 22 tahun berdarah Brasil itu punya talenta besar namun jalannya masuk tim utama terhalang pemain senior macam Xavi,Andreas Iniesta dan Cesc Fabregas. Demi membangkitkan karirnya ia dikabarkan rela pergi dari Camp Nou.Dan kepemimpinan Pep Guardiola di Bayern dimulai musim depan, ia diyakini siap menarik salah satu mantan anak asuhnya itu ke Allianz Arena. Marca melaporkan jika dengan klausul penebusan 'cuma' 18 juta euro, Die Roten siap membelokkan Thiago dari Old Trafford menuju Jerman.
Sebuah channel televisi Belanda, NOS dijadwalkan bakal menayangkan sebuah tayangan dokumenter tentang penggunaan doping, di mana Juventus diklaim menjadi pengguna pada musim 1996.Pada tayangan tersebut akan terdapat sebuah testimoni dari dua orang ilmuwan Italia, yakni Giuseppe d'Onofrio dan Alessandro Donati. Keduanya mengklaim Bianconeri sebagai pengguna pada tahun di mana mereka sukses menjuarai Liga Champions.Kemenangan adu penalti atas Ajax Amsterdam di Roma menjadi bukti keampuhan doping. Kedua ilmuwan tersebut mengaku memiliki akses menuju dokumen medis, ketika penggerebekan ke markas Juve tahun 1998. Data tersebut memuat hasil analisis sampel darah pemain Juve.D'Onofrio, yang bekerja sama dengan mantan dokter tim Juve, Riccardo Agricola, mengatakan bahwa pada waktu penelitian, sampel menunjukan bahwa skuad Juve hampir semuanya melakukan manipulasi farmasi, seperti menggunakan EPO atau transfusi darah.